Thursday, February 07, 2013

Jangan


“Oke, tapi aku pulangnya setelah kamu dapat angkot, ya.” Kalau dia bersikeras begini, apalagi setelah kupinjami payung, aku sudah nggak bisa melawan lagi. Lagipula, apa ruginya dia menemani?

Jalan raya yang sudah dibanjiri kendaraan bermotor, suara klakson yang membahana karena semua tak sabar tiba di rumah, halte bus yang lama-lama juga disesaki orang yang numpang berteduh. Ramai, tapi sepi. Sudah lama. Sepi sunyi yang biasanya bisa dan biasa aku—dan dia—nikmati, namun sekarang semuanya terasa janggal.

“Sudah lama, ya, nggak begini,” aku membuka suara, menengadahkan kepalaku, menyaksikan air yang perlahan menetes dan menggenang. “Iya, sudah lama nggak hujan,” ujarnya, membiarkan air membasahi telapak tangannya yang terbuka.

“Maksudku… Ya sudah, nggak jadi, lupakan,” aku mengalihkan pandanganku padanya.

Semua mungkin tidak sama lagi.

“Kamu sama dia gimana?”

Kenapa aku jadi bertanya begitu? Air mukanya langsung berubah. Aku mau tahu, tapi tidak mau tahu.

“Hmm.. Aku dan dia…”

Namun, aku sepertinya belum siap. Pertanyaannya, kapan siap?

“Eh, sorry, nggak seharusnya aku bertanya begitu. Lupakan aja. ‘Kan kita sudah janji mau jadi teman yang nggak membicarakan hal-hal macam begitu. Sorry, ya.”

Ia tersenyum, menyembunyikan makna besar di balik lengkungan di bibirnya itu.

“Tapi, kalau aku boleh berpendapat, nih, kamu sebenarnya cocok banget sama dia,” aku bisa merasakan nadaku berubah, lalu kutatap matanya lekat. Mencoba terlihat jujur, setidaknya, di hadapannya. Ia hanya diam. Aku yang seharusnya diam saja.

“Kalau kamu memang masih sayang, mendingan balikan aja.”

Ini mulut kenapa tidak bisa diam, sih? 

Ia tidak bersuara namun terlihat berpikir keras.

Okay, thanks,” dia membalas singkat.

Aku sekarang mengerti.

Semua memang tidak sama lagi.

Yang tidak kupahami, dan tidak akan pernah paham, adalah perkataan bahwa mencintai seseorang berarti melihat orang itu bahagia, walaupun bersama orang lain. Mungkin orang yang berpendapat begitu harus berdiri di bawah halte ini, menggantikan posisiku, dan menemukan dirinya salah antara definisi "bahagia" dan "makan hati."

“Eh, angkotnya datang. Makasih, ya, sudah nemenin. Aku duluan, ya! Hati-hati!”

Mungkin bagus angkot ini akhirnya datang, jadinya aku tidak harus memperpanjang basa-basi memberi nasihat kosong. Kalau kamu memang masih sayang, mendingan balikan aja? Seharusnya aku bicara begitu di depan cermin. Munafik saja terus.

Aku segera masuk ke dalam angkot, memilih duduk di bangku paling pojok tepat di samping kaca. Setidaknya, aku masih bisa melihatnya—melihatnya pergi, lagi, membawa sebagian dari diriku. Dibatasi oleh kaca film angkot yang buram dan berembun, aku hanya bisa memandangi dan mengutuk diriku sendiri karena tidak mampu mengusir harapan tak berlogika ini.

Jangan kembali padanya.




Related: Diam

Tuesday, February 05, 2013

Diam


“Sudah lama nggak begini, ya,” ia membuka pembicaraan. Iya, sudah lama kita terpisah jarak karena ego sendiri. “Iya, sudah lama nggak hujan,” jawabku. “Maksudku… Ya sudah, nggak jadi, lupakan,” katanya. Aku memandang wajahnya, tahu ia juga berpikiran hal yang sama. Ia menoleh menatapku.

“Kamu sama dia gimana?”

Aku tersentak, terdiam sesaat. Memikirkan cara untuk menjawab pertanyaan terkutuk itu. Berat.

“Hmm.. Aku dan dia…”

“Eh, sorry, nggak seharusnya aku bertanya begitu. Lupakan aja. ‘Kan kita sudah janji mau jadi teman yang nggak membicarakan hal-hal macam begitu. Sorry, ya.”

Aku mengangguk sambil tersenyum pahit. Teman.

“Tapi, kalau aku boleh berpendapat, nih, kamu sebenarnya cocok banget sama dia,” katanya. Mata kami bertemu, sorotnya masih sama seperti dulu saat kami masih satu. Ada isyarat yang tak bisa kuterka. Aku hanya, lagi-lagi, terdiam.

Dia bukan kamu.

“Kalau kamu memang masih sayang, mendingan balikan aja,” kata-katanya datar, namun menusuk.

Aku masih sayang.

Aku menarik nafas panjang, merasa ini waktu untuk mengatakan yang sebenarnya. Semuanya. Sekarang.

Okay, thanks.”

Sial.

Dari seluruh hal yang bisa, dan seharusnya, aku katakan, malah dua kata itu yang kuberikan. Dasar bodoh.

“Eh, angkotnya datang. Makasih, ya, sudah nemenin. Aku duluan, ya! Hati-hati!” tanpa babibu ia langsung berlari menuju angkot tersebut, menutupi kepalanya dari tetes-tetes air menggunakan jaketnya. Ia seketika hilang dari pandangan. Hilang.

Beberapa menit lalu, halte ini mempertemukan kami saat ia sedang menunggu kendaraan umum dan aku berniat melindungi diri dari air hujan. Rasanya salah kalau aku langsung pulang setelah ia meminjami aku payung, akhirnya aku bersikeras untuk pulang setelah ia naik ke angkot.

Aku menatap sendu pada payung yang ia berikan. Berharap ada maksud lebih, namun aku tidak bisa dusta karena aku tahu dia akan melakukan hal ini kepada semua temannya—temannya. Karena dia memang begitu.

Aku mendapati bayanganku di genangan air di hadapanku, ada wajah penyesalan yang berharap seandainya aku tidak sebodoh itu. Bodoh tentang sore ini. Bodoh tentang waktu itu. Bodoh tentang pikiran akan menemukan pengganti dirinya.

Bodoh tentang kami berdua.

Aku lalu membuka payungnya, mulai melangkahkan kakiku pulang. Membiarkan bagian dari dirinya pulang bersamaku.

Sekarang apa?

Mungkin, aku akan membiarkan rasa ini menyatu dengan tetes hujan yang jatuh, lalu perlahan sirna membasahi jalan.

Atau mungkin, seperti lirihnya tetes hujan yang menyentuh payung ini, aku akan selamanya diam-diam jatuh cinta.


Related: Jangan

Monday, January 28, 2013

More Than Numbers


People evolve at different speeds.

And I feel mine was a little bit slower than anyone else’s. From the start, I knew my limitations and the fact that I’m not the genius asses my schoolmates are, that equals having to work my ass harder than anybody else. I have to read a paragraph on how human’s kidneys filter blood and eventually produce urine a few times in order to fully decipher it while for others once was enough. I needed to ask my friends to repeatedly explain some formulas in statistics—yes, I had statistics during the first semester. I struggled to stay awake—and failed miserably a few times—during lab class because for the earth’s sake labs are not my cup of tea... not yet. I was once discreetly watching videos of Girls’ Generation during lecture, and some students behind me were laughing and shaking their heads like I was committing a crime.

Then the mid-term exam results came out. I passed all exams, but I felt… sort of... unsatisfied? I might not fail the numbers, but I failed myseIf.  I knew I should’ve and could’ve done better, yet I found myself settling down with less and lowering my standards. Simply put, I did not do my best, and I learned that the hard way. I have always lived by Bill Shankly’s saying, “Aim for the sky and you'll reach the ceiling. Aim for the ceiling and you'll stay on the floor.” But that time I let it all fade away.

I guess everybody needs to hit the bottom, or at least go a little downhill, to climb back up. I could say I took a more planned approach for the finals. I might still be used to the high school ways and cram overnight before the exams; but I tried out group-studying, which I rarely did in high school, and it turned out to be a huge help. I tried to avoid writing long notes, which what I always did throughout high school, and opted for mind-map more often. I also constantly reminded myself that my year-end holiday was at stake so there was no room for failure. That proved to be powerful. I felt I did better at the finals, at least better than the mid-term ones. I still fell asleep during lab class, though.

Contrary to popular belief, I didn’t look forward to my first ever GPA. I noticed my friends spent hours in front of their laptops in an agitating wait for the scores to be posted online. And even after GPAs became the hottest talk of the town, I wasn’t even moved to just sign in and check it out. I was somehow content; whatever number appeared on my screen, I knew I did the best I could. The grades were not extracting themselves anyway so I didn’t make a big deal out of it. I figured it was the right time to let things be.

(I finally found out due to the literal meaning of peer pressure, my high school friends found it out for me. They were more obsessed about my grades than I was whatsoever.)

Honestly, I was very happy with the result as it exceeded my expectation. But it’s not that good, really, my friends’ were far better than mine, but I am thankful. “It’s gratitude that leads to happiness.”

In high school, I considered myself rather pretentious about grades, scores, and rankings. Now I find myself a changed person. My education endeavor is still my first priority, but it’s not so much about numbers anymore. I’m not going to be a hypocrite by saying GPA doesn’t matter because it surely does. It’s the final result, the 'salary', the solid evidence. It’s crucial, but now I feel like there are more things beyond it. This may sound like an excuse for me who got less than everybody, but the only thing I am committed to doing is working my absolute best and the rest should follow. I’m not going to spend another years of my life being merely obsessed about quantitative data. I’m here to learn and do my best, and have fun in between...

(... and hopefully graduate in time and become a kick-ass doctor.)

Nothing, just goofing around with the phantom during lab class (read: basically what I do almost every meeting).
Anne Hathaway could be a great cover up to save my ass in case my lecturer stumbled upon this blog.

Question of the century: Have you ever asked your doctors their GPAs?