“Oke, tapi aku pulangnya
setelah kamu dapat angkot, ya.” Kalau dia bersikeras begini, apalagi setelah kupinjami payung, aku sudah nggak
bisa melawan lagi. Lagipula, apa ruginya dia menemani?
Jalan raya yang sudah dibanjiri kendaraan bermotor, suara klakson yang membahana karena semua tak sabar
tiba di rumah, halte bus yang lama-lama juga
disesaki orang yang numpang berteduh. Ramai, tapi sepi. Sudah lama. Sepi sunyi yang
biasanya bisa dan biasa aku—dan dia—nikmati, namun sekarang semuanya terasa
janggal.
“Sudah lama, ya, nggak
begini,” aku membuka suara, menengadahkan kepalaku, menyaksikan air yang
perlahan menetes dan menggenang. “Iya, sudah lama nggak hujan,” ujarnya, membiarkan
air membasahi telapak tangannya yang terbuka.
“Maksudku… Ya sudah, nggak jadi, lupakan,” aku mengalihkan pandanganku padanya.
Semua mungkin tidak sama lagi.
“Kamu
sama dia gimana?”
Kenapa
aku jadi bertanya begitu? Air mukanya langsung berubah. Aku mau tahu, tapi tidak mau tahu.
“Hmm.. Aku dan dia…”
Namun, aku sepertinya belum siap. Pertanyaannya, kapan siap?
“Eh, sorry, nggak seharusnya aku bertanya begitu. Lupakan aja.
‘Kan kita sudah janji mau jadi teman yang nggak membicarakan hal-hal macam
begitu. Sorry, ya.”
Ia tersenyum, menyembunyikan makna besar di balik lengkungan di bibirnya itu.
“Tapi, kalau aku boleh
berpendapat, nih, kamu sebenarnya cocok banget sama dia,” aku bisa merasakan
nadaku berubah, lalu kutatap matanya lekat. Mencoba terlihat jujur, setidaknya,
di hadapannya. Ia hanya diam. Aku yang seharusnya diam saja.
“Kalau
kamu memang masih sayang, mendingan balikan aja.”
Ia
tidak bersuara namun terlihat berpikir keras.
“Okay, thanks,” dia membalas singkat.
Aku sekarang mengerti.
Semua memang tidak sama lagi.
Yang tidak kupahami, dan tidak akan pernah paham, adalah perkataan
bahwa mencintai seseorang berarti melihat orang itu bahagia, walaupun bersama
orang lain. Mungkin orang yang berpendapat
begitu harus berdiri di bawah halte ini, menggantikan posisiku, dan menemukan dirinya salah antara definisi "bahagia" dan "makan hati."
“Eh,
angkotnya datang. Makasih, ya, sudah nemenin. Aku duluan, ya! Hati-hati!”
Mungkin
bagus angkot ini akhirnya datang, jadinya aku tidak harus memperpanjang
basa-basi memberi nasihat kosong. Kalau kamu memang masih sayang, mendingan
balikan aja? Seharusnya aku bicara begitu di depan cermin. Munafik saja terus.
Aku segera masuk ke dalam angkot, memilih duduk di bangku paling pojok tepat di samping kaca. Setidaknya, aku masih
bisa melihatnya—melihatnya pergi, lagi, membawa sebagian dari diriku. Dibatasi oleh kaca film angkot yang buram dan berembun, aku hanya bisa
memandangi dan mengutuk diriku sendiri karena tidak mampu mengusir harapan tak berlogika ini.
